agama yang konprehenship dan universal

ISLAM AGAMA YANG KOMPREHENSIF DAN UNIVERSAL

 

“Dan siapa saja yang menjauh dari peringatan (system)-Ku,

maka kehidupan dunianya mengalami kesempitan,

dan Kami himpun mereka pada hari kiamat nanti dalam keadaan buta”

(Tarjamah Q.S. 20; 124)

 

A.  ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG LENGKAP DAN UNIVERSAL

 

Dewasa ini masih ada anggapan bahwa Islam menghambat kemajuan. Beberapa kalangan mencurigai Islam sebagai faktor penghambat pembangunan (an obstacle to economic growth). Pandangan ini berasal dari pemikir barat. Meskipun demikian, tidak sedikit intelektual muslim yang juga menyakininya.

 

Kesimpulan yang tergesa-gesa ini hampir dapat dipastikan timbul karena kesalahpahaman terhadap Islam. Seolah-olah Islam merupakan agama yang berkaitan dengan masalah ritual, bukan suatu sistem yang komprehensif dan mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk masalah pembangunan ekonomi serta industri perbankan sebagai salah satu motor penggerak roda perekonomian.

 

Ada juga paham yang dikenal sebagai sekularisme, di mana agama adalah terpisah dari urusan kehidupan dunia (fashlud dien ‘anil hayah). Dipahaminya Islam hanya mengatur masalah ibadah saja, sedang masalah ekonomi, sosial, hukum dan politik tergantung manusia bebas berbuat dan membuat sistematika. Dari sinilah sebenarnya muara dari “Al-Islaamu mahjuubun bil Muslimiin” (Kebaikan Islam tertutupi oleh perilaku dan pandangan orang-orang Islam)

 

B. ISLAM SEBAGAI SUATU SISTEM HIDUP (WAY OF LIFE)

 

Manusia sebagai khalifah di muka bumi. Islam memandang bahwa bumi dengan segala isinya merupakan amanah Allah kepada sang khalifah agar dipergunakan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan bersama.

Untuk mencapai tujuan suci ini, Allah memberikan petunjuk melalui para rasul-Nya. Bentuk tersebut melalui segala sesuatu yang dibutuhkan manusia, baik Aqidah, Akhlak, Syariah, maupun Dakwah.

Dua komponen pertama ‘aqidah dan akhlak, bersifat konstan. Keduanya tidak mengalami perubahan apapun dengan berbedanya waktu dan tempat. Adapun syariah senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan dan taraf peradaban umat, yang berbeda-beda sesuai dengan masa rasul masing-masing. Hal ini diungkapkan dalam Al-Qur’an.

 

 

“…Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang…” (Al-Ma’idah:48)

Juga oleh Rasulullah dalam suatu hadist,

 

 

Para Rasul tak ubahnya bagaikan saudara sebapak, ibunya (syariahnya) berbeda-beda sedangkan Dinnya (tauhidnya) satu.” (HR Bukhori, Abu Dawud dan Ahmad)

 

 

 

Oleh karena itu syariah Islam sebagai suatu syariah yang dibawa oleh rasul terakhir, mempunyai keunikan tersendiri. Syariah ini bukan saja menyeluruh atau komperehensif, tetapi juga universal. Karakter istimewa ini diperlukan sebab tidak akan ada syariah lain yang datang menyempurnakannya.

 

Komprehensif berarti syariah Islam merangkup seluruh aspek kehidupan, baik ritual (ibadah) maupun sosial (muamalah). Ibadah diperlukan untuk menjaga ketaaatan keharmonisan hubungan manusia dengan khaliqnya. Ibadah juga sarana untuk meningkatkan secara kontinyu tugas manusia sebagai khalifah-Nya dimuka bumi ini. Adapun muamalah diturunkan untuk menjadi rules of the game atau aturan main manusia dalam kehidupan sosial. Kelengkapan system muamalah yang disampaikan Rasulullah saw, terangkum dalam skema pada halaman berikut.

 

Universal bermakna bahwa syariah Islam dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat sampai hari akhir nanti. Universalitas ini tampak jelas terutama pada bidang muamalah. Selain mempunyai cakupan luas dan fleksibel, muamalah tidak membeda-bedakan muslim dan non muslim. Kenyataan ini tersirat dalam suatu ungkapan yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali,

Dalam bidang muamalah, kewajiban mereka adalah kewajiban kita dan hak mereka adalah hak kita.”

 

Sifat muamalah ini dimungkinkan karena Islam mengenal hal yang diistilahkan sebagai taswabit wa mutaghhayyirat (principles and variables). Dalam sektor ekonomi, misalnya, yang merupakan prinsip adalah larangan riba, sistem bagi hasil, pembagian keuntungan, pengenaan zakat, dll. Adapun contoh variable adalah instrumen-instrumen untuk melaksanaklan prinsip-prinsip tersebut. Di antaranya adalah aplikasi prinsip jual beli dalam modal kerja, penerapan azas mudharabah dalam investasi atau penerapan bai’ as salam dalam pembangunan suatu proyek. Tugas cendekiawan muslim sepanjang zaman adalah mengembangkan teknik penrapan prinsip-prinsip tersebut dalam variable-variabel yang sesuai dengan situasi dan kondisi pada setiap masa.

 


PRINSIP DAN KONSEP OPERASIONAL
LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH
PRINSIP-PRINSIP EKONOMI ISLAM

 

Sosialisasi sistem keuangan dan perbankan Islam adalah merupakan bagian dari kewajiban kita atas dakwah konsep Islam yang menyeluruh. Karenanya tujuan dari upaya ini bukan hanya sekedar perhitungan atas tingkat kemampuan konsep dan praktek lembaga itu menghasilkan keuntungan, tetapi juga pada perspesi kewajiban agama tersebut.

 

Islam berbeda dengan agama yang lainnya karena agama lain tidak dilandasi dengan postulat iman dan ibadah. Dalam kehidupan sehari-hari, Islam dapat diterjemahkan ke dalam teori dan juga diinterpretasikan ke dalam praktek tentang bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain. Dalam ajaran Islam perilaku individu dan masyarakat diarahkan ke arah bagaimana cara pemenuhan kebutuhan mereka dilaksanakan dan bagaimana menggunakan sumber daya yang ada. Hal ini menjadi subjek yang dipelajari  dalam ekonomi Islam, sehingga implikasi ekonomi yang dapat ditarik dari ajaran Islam berbeda dengan ekonomi tradisionil. Oleh karena itu, dalam ekonomi 0Islam hanya pemeluk Islam yang berimanlah yang dapat mewakili satuan ekonomi Islam.

 

Prinsip-prinsip ekonomi Islam itu secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:

(1)      Dalam ekonomi Islam, berbagai jenis sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan ALLAH SWT kepada manusia. Manusia harus memanfaatkannya seefisien dan seoptimal mungkin dalam produksi guna memnuhi kesejahteraan secara bersama di dunia, yaitu untuk diri sendiri dan orang lain. Namun yang terpenting adalah bahwa kegiatan tersebut akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

 

(2)      Islam mengakui kepemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu, termasuk kepemilikan alat produksi dan faktor produksi. Pertama, kepemilikan individu dibatasi oleh kepentingan masyarakat. Kedua, Islam menolak setiap pendapatan yang diperoleh secara tidak sah, apalagi usaha yang menghancurkan masyarakat.

 

(3)      Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerjasama. Seorang muslim, apakah ia sebagai pembeli, penjual, penerima upah, pembuat keuntungan dsb, harus berpegang teguh pada tuntunan ALLAH SWT dalam Al Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan batil, kecuali dengan perdagangan yang dilakukan dengan suka sama suka di antara kamu …” (QS 4:29)

(4)      Pemilikan kekayaan pribadi harus berperan sebagai kapital produktif yang akan meningkatkan besaran produk nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Al Qur’an mengungkapkan bahwa “Apa yang diberikan ALLAH SWT kepada Rasul-NYA sebagai harta rampasan dari penduduk negeri-negeri itu, adalah untuk ALLAH, untuk Rasul, kaum keraat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu …” (QS 57:7). Oleh karena itu, sistem ekonomi Islam menolak terjadinya ekumuasi kekayaan yang dikuasai oleh beberapa orang saja. Konsep ini berlawanan dengan sistemekonomi kapitalis, dimana kepemilikan industri didominasi oleh monopoli dan oligopoli, tidak terkecuali industri yang merupakan kepentingan umum.

 

(5)      Islam menjamin kepemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk kepentingan orang banyak. Prinsip ini didasari sunnah Rasulullah yang menyatakan bahwa “Masyarakat punya hak yang sama atas air, padang rumput dan api” (Al Hadits). Sunnah Rasulullah tersebut menghendaki semua industri ekstraktif yang ada hubungannya dengan produksi air, bahan tambang, bahkan bahan makanan harus dikelola oleh negara. Demikian juga berbagai macam bahan bakar untuk keperluan dalam negeri dan industri tidak boleh dikuasai oleh individu.

 

(6)      Seorang muslim harus takut kepada ALLAH SWT dan hari akhirat, seperti yang diuraikan dalam Al Qur’an berikut ini: “Dan takutlah kamu pada hari sewaktu kamu dikembalikan kepada ALLAH, kemudian masing-masing diberikan balasan dengan sempurna usahanya. Dan mereka tidak teraniaya …” (QS 2:281). Oleh karena itu Islam mencela keuntungan yang berlebihan, perdagangan yang tidak jujur, perlakuan yang tidak adil dan semua bentuk diskriminasi dan penindasan.

 

(7)      Seorang muslim yang kekayaannya melebihi tingkat tertentu (Nisab), diwajibkan membayar zakat. Zakat merupakan alat distribusi sebagian kekayaan orang kaya (sebagai sanksi penguasaan harta tersebut) yang ditujukan untuk orang miskin dan orang-orang yang lebih membutuhkan. Menurut pendapat para alim ulama, zakat dikenakan 2,5% untuk semua kekayaan yang tidak produktif (Idle Assets), termasuk di dalamnya adalah uang kas, deposito, emas, perak dan permata, pendapatan bersih dari transaksi. 10% dari pendapatan bersih investasi.

 

(8)      Islam melarang bunga (riba) atas berbagai bentuk pinjaman, apakah pinjaman itu berasal dari teman, perusahaan perorangan, pemerintah ataupun institusi lainnya. Al Quran secara bertahap namun jelas dan tegas memperingatkan kita tentang riba. Hal ini dapat dilihat dari pembahasan tentang riba.

 

(9)      Islam bukanlah satu-satunya agama yang melarang pembayaran bunga (riba). Banyak pemikir zaman dahulu yang berpendapat bahwa pembayaran bunga adalah tidak adil. Bahkan meminjamkan uang dengan bungan dilarang pada zaman Yunani kuno. Aristoteles adalh orang yang amat menentang dan melarang bunga, sedangkan Plato juga mengkutuk dipraktekkannya bunga.

 

 

PRINSIP DASAR OPERASIONAL LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH

 

1. Prinsip Utama

 

Islam adalah suatu Din (Way of Life) yang praktis, yang mengajarkan semua sesuatu yang baik dan bermanfaat  bagi manusia, dengan mengabaikan waktu, tempat atau tahap-tahap perkembangannya. Islam adalah agama fitrah, yang sesuai dengan sifat dasar manusia (human nature).

 

Prof. Emeritus Tan Sri Datuk Ahmed bin Mohd. Ibrahim menyatakan:

Banking and financial activities have emerged to meet genuine human needs. Therefore, unless these activities belong to the category expressly forbidden by Islam, there is nothing in the nature of these activities, which is contrary to the Syariah. Examples of forbidden activities include gambling and manufacturing and trading in forbidden goods such as liquor”.

 

Aktivitas keuangan dan perbankan dapat dipandang sebagai wahana bagi masyarakat modern untuk membawa mereka kepada, paling tidak, pelaksanaan dua ajaran Al Qur’an yaitu:

(1)     Prinsip Al Ta’awun, yaitu saling membantu dan saling bekerja sama diantara anggota masyarakat untuk kebaikan, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an:

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS 5:2)

 

(2)     Prinsip menghindari Al Iktinaz, yaitu menahan uang (dana) dan membiarkannya menganggur (idle) dan tidak berputar dalam transaksi yang bermanfaat bagi masyarakat umum, sebagaimana dinyatakan di dalam Al Qur’an:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…” (QS 4:29)

 

Perbedaan pokok antara Perbankan Islam dengan Perbankan Konvensional adalah adanya larangan riba (bunga) bagi Perbankan Islam. Bagi Islam, riba dilarang sedangkan jual beli (Al Bai’) dihalalkan.

 

Sejak dekade tahun 70-an, umat Islam di berbagai negara telah berusaha untuk mendirikan bank-Lembaga Keuangan Syariah. Tujuan dari pendirian bank-Lembaga Keuangan Syariah ini pada umumnya adalah untuk mempromosikan dan mengembangkan aplikasi dari prinsip-prinsip syariah Islam dan tradisinya ke dalam transaksi keuangan dan perbankan dan bisnis lain yang terkait.

 

Prinsip utama yang dianut oleh Lembaga Keuangan Syariah adalah:

–          Larangan riba (bunga) dalam berbagai bentuk transaksi,

–          Menjalankan bisnis dan aktivitas perdangan yang berbasis pada memperoleh keuntungan yang sah menurut syariah, dan

–          Memberikan zakat.

 

Pada dasarnya Islam memandang uang hanya sebagai alat tukar, bukan sebagai barang dagangan (komoditas). Oleh karena itu motif permintaan akan uang adalah untuk memenuhi kebutuhan transaksi (money demand for transaction), bukan untuk spekulasi. Islam juga sangat menganjurkan penggunaan uang dalam pertukaran karena Rasulullah SAW telah menyadari kelemahan dari salah satu bentuk pertukaran di zaman dahulu, yaitu barter (Bai’al Muqayyadah), dimana barang saling dipertukarkan.

 

Menurut Afzalur Rahman:

Rasulullah SAW menyadari akan kesulitan dan kelemahan akan sistem pertukaran ini, lalu beliau ingin menggantinya dengan sistem pertukaran melalui uang. Oleh karena itu beliau menekankan kepada para sahabat untuk menggunakan uang dalam transaksi-transaksi mereka.”

 

Hal ini dapat dijumpai dalam hadits-hadits antara lain seperti yang diriwayatkan oleh Ata Ibn Yasar, Abu Said dan Abu hurairah, dan Abu Said Al Khudri.

Ternyata Rasulullah SAW tidak menyetujui transaksi-transaksi dengan sistem barter, untuk itu dianjurkan sebaiknya menggunakan uang. Nampaknya beliau melarang pertukaran seperti itu karena ada unsur riba di dalamnya.”

 

Dalam konsep Islam, tidak dikenal money demand for speculation, karena spekulasi tidak diperbolehkan. Kebalikan dari sistem konvensional yang memberikan bunga atas harta, Islam malah menjadikan harta sebagai objek zakat. Uang adalah milik masyarakat sehingga menimbun uang di bawah bantal, dilarang. Karena hal itu berarti mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Dalam pandangan Islam, uang adalah flow concept, oleh karenanya harus selalu berputar dalam perekonomian. Semakin cepat uang berputar dalam perekonomian, maka akan semakin tinggi tingkat pendapatan masyarakat dan semakin baik perekonomian.

 

Bagi mereka yang tidak dapat memproduktifkan hartanya, Islam menganjurkan investasi dengan prinsip Musyarakah atau Mudharabah, yaitu bisnis dengan bagi hasil. Bila ia tidak ingin mengambil resiko karena ber-musyrakah atau ber-mudharabah, maka Islam sangat menganjurkan untuk melakukan Qard, yaitu meminjamkannya tanpa imbalan apapun. Karena meminjamkan uang untuk memperoleh imbalan adalah riba.

 

Secara mikro, Qard tidak memberikan manfaat langsung bagi orang yang meminjamkan. Namun secara makro, Qard akan memberikan manfaat tidak langsung bagi perekonomian secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena pemberian Qard membuat velocity of money akan bertambah cepat, yang berarti bertambahnya darah baru bagi perekonomian, sehingga pendapatan nasional meningkat. Dengan peningkatan pendapatan nasional, maka si pemberi pinjaman akan meningkat pula pendapatannya. Demikian pula pengeluaran Shadaqah juga akan memberikan manfaat yang lebih kurang sama dengan pemberian Qard.

 

Islam juga tidak mengenal Time Value of Money, namun Islam mengenal konsep Economic Value of Time yang artinya baywa yang bernilai adalah waktu itu sendiri. Islam membolehkan penetapan harga tangguh bayar lebih tinggi daripada harga tunai. Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Husin bin Ali bin Abi Thalib, cicit rasulullah SAW, adalah orang yang pertama kali menjelaskan diperbolehkannya penetapan harga tangguh bayar (deferred payment) lebih tinggi daripada harga tunai.

 

Yang lebih menarik adalah bahwa dibolehkannya penetapan harga tangguh yang lebih tinggi itu sama sekali bukan disebabkan Time Value of Money, namun karena semata-mata  ditahannya hak si penjual barang. Dapat dijelaskan di sini bahwa barang yang dijual tunai dengan untung Rp 500,-, maka si penjual dapat membeli lagi dan menjual lagi sehingga dalam satu hari itu keuntungannya adalah rp 1000,-. Sedangkan bila dijual tangguh bayar, maka hak si penjual menjadi tertahan sehingga dia tidak dapat membeli dan menjual lagi. Akibat lebih jauh lagi adalah hak keluarga dan anak si penjual untuk memenuhi kebutuhan hari itu akan tertahan oleh pembeli. Untuk alasan inilah, yaitu tertahannya hak penjual yang telah memenuhi kewajibannya (menyerahkan barang), maka Islam membolehkan penetapan harga tangguh lebih tinggi dari harga tunai.

 

2. Sistem Operasional Lembaga Keuangan Syariah

 

Sistem keuangan dan perbankan modern telah berusaha memenuhi kebutuhan manusia untuk mendanai kegiatannya, bukan dengan dananya sendiri, melainkan dengan dana orang lain. Baik dalam bentuk penyertaan (equity financing) maupun dalam bentuk pinjaman (debt financing).

 

Islam mempunyai hukum sendiri untuk memenuhi kebutuhan tersebut, yaitu melalui akad-akad bagi hasil (Profit and Loss Sharing), sebagai metoda pemenuhan kebutuhan permodalan (equity financing) dan akad-akad jual beli untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan (debt financing), dengan produk-produknya sebagai berikut:

 

2.1. Produk pembiayaan (Financing)

2.1.a. Equity Financing

Ada 2 macam kontrak dalam kategori ini, yaitu:

a.       Musyarakah (Joint Venture Profit Sharing)

Melalui kontrak ini, dua pihak atau lebih (termasuk bank dan lembaga keuangan bersama nasabahnya) dapat mengumpulkan modal mereka untuk membentuk sebuah perusahaan (Syirkah al Inan) sebagai sebuah badan hukum (Legal Entity). Setiap pihak memiliki bagian secara proporsional sesuai dengan kontribusi modal mereka dan mempunyai hak mengawasi (Voting Right) perusahaan sesuai dengan proporsinya. Untuk pembagian keuntungan, setiap pihak menerima bagian keuntungan secara proporsional dengan kontribusi modal masing-masing atau sesuai dengan kesepakatan yang telah ditentukan sebelumnya. Bila perusahaan mengalami kerugian, maka kerugian itu juga dibebankan secara proporsional kepad masing-masing pemberi modal. Aplikasinya dalam perbankan terlihat pada akad yang diterapkan pada usaha atau proyek dimana bank membiayai sebagian saja dari jumlah kebutuhan investasi atau modal kerjanya. Selebihnya dibiayai sendiri oleh nasabah. Akad ini juga ditetapkan pada sindikasi antar bank atau lembaga keuangan.

 

Dalam kontrak tersebut, salah satu pihak dapat mengambil alih modal pihak lain sedangkan pihak lain tersebut menerima kembali modal mereka secara bertahap. Inilah yang disebut dengan Musyarakah al Mutanakishah. Aplikasinya dalam perbankan adalah pada pembiayaan proyek oleh bank bersama nasabahnya atau bank dengan lembaga keuangan lainnya, dimana bagian dari bank atau lembaga keuangan diambil alih oleh pihak lainnya dengan cara mengangsur. Akad ini juga dapat dilaksanakan pada mudharabah yang modal pokoknya dicicil, sedangkan usahanya berjalan terus dengan modal yang tetap.

 

b.       Mudharabah (Trustee Profit Sharing)

Kontrak mudarabah adalah juga merupakan suatu bentuk Equity Financing, tetapi mempunyai bentuk yang berbeda dengan musyarakah. Di dalam mudharbah, hubungan kontrak bukan antar pemberi modal, melainkan antara penyedia modal (Shahib al Maal) dengan entrepreneur (Mudharib). Di dalam kontrak mudharabah, seorang mudharib (dapat perorangan, rumah tangga perusahaan atau suatu unit ekonomi) memperoleh modal dari unit ekonomi lainnya untuk tujuan melakukan perdagangan atau perniagaan. Mudharib dalam kontrak ini menjadi trustee atas modal.

 

Dalam hal objek yang didanai, ditentukan oleh penyedia dana, maka kontrak tersebut dinamakan Mudharabah al Muqayyadah. Dia menggunakan modal tersebut dengan tujuan yang dinyatakan secarakhusus untuk menghasilkan keuntungan. Pada saat projek sudah selesai, mudharib akan mengembalikan modal tersebut kepada penyedia modal berikut porsi keuntungan yang telah disetujui sebelumnya. Bila terjadi kerugian, maka seluruh kerugian dipikul oleh Shahib al Maal. Bank dan lembaga keuangan dalam kontrak ini dapat menjadi salah satu pihak. Mereka dapat menjadi entrepreneur (Mudharib) dalam hubungan mereka dengan para penabung, atau dapat sebagai penyedia dana (Shahib al Maal) dalam hubungan mereka dengan pihak yang mereka beri dana.

 

2.1.b. Debt Financing

Kalimat Al Qur’an “….Allah menghalalkan jual beli (al bai’) dan melarang riba…” (QS 2:275) menunjukkan bahwa praktek bunga adalah tidak sesuai dengan spirit Islam. Istilah jual beli memiliki arti yang secara umum meliputi semua tipe kontrak pertukaran, kecuali tipe kontrak yang dilarang oleh syariah. Al Bai’ berarti setiap kontrak pertukaran barang dan jasa dalam jumlah tertentu atas barang (termasuk uang) dan jasa yang lain. Penyerahan jumlah atau harga barang dan jasa tersebut dapat dilakukan dengan segera (cash) atau dengan tangguh (deferred). Oleh karenanya syarat-syarat Al Bai’ dalam Debt Financing menyangkut berbadai tipe dari kontrak jual beli tangguh (Deferred Contract of Exchange) yang meliputi transaksi-transaksi berikut:

 

a. Jual Beli

Al Murabahah, yaitu kontrak jugal beli dimana barang yang diperjualbelikan tersebut diserahkan segera, sedang harga (baik pokok dan margin keuntungan yang disepakati bersama) atas barang tersebut dibayar dikemudian hari secara sekaligus (Lump Sum Deferred Payment). Dalam prakteknya, bank bertindak sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli dengan kewajiban membayar secara tangguh dan sekaligus.

 

Al Bai’ Bitsaman Ajil, yaitu kontrak al murabahah dimana barang yang diperjualbelikan tersebut diserahkan dengan segera, sedangkan harga atas barang tersebut dibayar secara angsuran (Installment Deferred Payment). Dalam prakteknya, pada bank sama dengan murabahah, hanya saja kewajiban nasabah dilakukan secara angsuran.

Bai’as Salam, yaitu kontrak jual beli dimana harga atas barang yang diperjualbelikan dibayar dengan segera secara sekaligus, sedangkan penyerahan atas barang tersebut dilakukan kemudian. Bai’as Salam ini biasanya dipergunakan untuk produk-produk pertanian yang berjangka pendek. Dalam hal ini, bank bertindak sebagai pembeli produk dan menyerahkan uangnya lebih dahulu sedangkan nasabah menggunakannya sebagai modal untuk mengelola pertaniannya. Karena kewajiban nasabah kepada bank berupa produk pertanian, biasanya bank melakukan Paralel Salam, yaitu mencari pembeli kedua sebelum saat panen tiba.

 

Bai’al Istishna, hampir sama dengan Bai’as Salam, dimana harga atas barang tersebut dibayar terlebih dahulu tetapi dapat diangsur sesuai dengan jadwal dan syarat-syarat yang disepakati bersama, sedangkan barang yang dibeli diproduksi dan diserahkan kemudian. Dalam prakteknya bank bertindak sebagai penjual (Mustashni ke-1) kepada pemilik/pembeli proyek (bohir) dan mensubkannya kepada kontraktor (Mustashni ke-2).

 

b. Sewa Beli

Sewa dan Sewa Beli (Ijarah dan Ijarah wa Iqtina) oleh para ulama secara bulat dianggap sebagai model pembiayaan yang dibenarkan oleh syariah Islam. Model ini secara konvensional dikenal sebagai lease dan financing lease. Al Ijarah atau sewa, adalah kontrak yang melibatkan suatu barang (sebagai harga) dengan jasa atau manfaat atas barang lainnya. Penyewa dapat juga diberikan pilihan untuk membeli barang yang disewakan tersebut pada saat sewa selesai dan kontrak ini disebut Al Ijaraha wa Iqtina, dimana akad sewa yang terjadi antara bank (sebagai pemilik barang) dengan nasabah (sebagai penyewa) dengan cicilan sewanya sudah termasuk cicilan pokok harga barang.

 

2.1.c. Al Qard al Hasan

Dalam rangka mewujudkan tanggung jawab sosialnya, bank dapat memberikan fasilitas yang disebut Al Qard al Hasan, yaitu penyediaan pinjaman dana kepada pihak-pihak yang patut mendapatkannya. Secara syariah peminjam hanya berkewajiban membayar kembali pokok pinjamannya, walalupun syariah membolehkan peminjam untuk memberikan imbalan sesuai dengan keikhlasannya, tetapi bank sama sekali dilarang untuk menerima imbalan apapun.

 

2.2. Produk Penghimpunan Dana (Funding)

 

Lembaga Keuangan Syariah menjalankan fungsi-fungsi financing tersebut adalah dalam kapasitasnya sebagai mudharib dengan menggunakan dana-dana yang diperoleh dari para nasabah sebagai shahib al maal, yang menyimpan dan menanamkan dananya pada bank melalui rekening-rekening sebagai berikut:

–          Rekening koran

Jasa simpanan dana dalam bentuk Rekening Koran diberikan oleh lembaga keuangn syariah dengan prinsip Al Wadi’ah yad Dhamanah, dimana penerima simpanan bertanggungjawab penuh atas segala kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada aset titipan tersebut. Dengan prinsip ini, bank menerima simapan dana dari nasabah yang memerlukan jasa penitipan dengan kebebasan mutlak untuk menariknya kembali sewaktu-waktu.

 

Jadi, Bank memperoleh izin dari nasabah untuk menggunakannya selama dana tersebut mengendap di bank. Nasabah sewaktu-waktu dapat menarik sebagian atau seluruh saldo yang mereka miliki. Dengan demikian mereka memerlukan jaminan pembayaran kembali dari bank atas simpanan mereka. Semua keuntungan yang dihasilkan dari penggunaan dana tersebut selama mengendap di bank adalah hak bank. Bank diperbolehkan memberikan bonus kepada nasabah atas kehendaknya sendiri, tanpa diikat oleh perjanjian. Bank menyediakan cek dan jasa-jasa lainnya yang berkaitan dengan rekening koran tersebut.

 

Berdasarkan prinsip wadiah ini penerima simpanan juga dapat bertindak sebagai Yad al Amanah (tangan penerima amanah), artinya ia tidak bertanggungjawab atas kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada aset titipan jika hal itu bukan akibat kelalaian atau kecerobohan yang bersangkutan (force majure). Penerapannya dalam perbankan dapat kita saksikan, misalnya dalam pelayanan safe deposit box.

 

–          Rekening tabungan

Bank menerima simpanan dari nasabah yang memerlukan jasa penitipan dana dengan tingkat keleluasaan tertentu untuk menariknya kembali berikut kemungkinan memperoleh keuntungan berdasarkan prinsip Wadi’ah. Bank memperoleh izin dari nasabah untuk menggunakan dana tersebut selama mengendap di bank. Nasabah dapat menarik sebagian atau seluruh saldo simpanannya sewaktu-waktu atau sesuai perjanjian yang disepakati. Bank menjamin pembayaran kembali simpanan mereka. Semua keuntungan atas pemanfaatan dana tersebut adalah milik bank, namun berbeda dengan rekening koran, bank dapat memberikan imbalan keuntungan yang berasal dari sebagian keuntungan bank. Bank menyediakan buku tabungan dan jasa-jasa yang berkaitan dengan rekening tersebut.

 

–          Rekening investasi umum

Bank menerima simpanan dari nasabah yang mencari kesempatan investasi dari dana mereka dalam bentuk rekening investasi umum berdasarkan mudharabah mutlaqah. Simpanan diperjanjikan untuk jangka waktu tertentu. Bank dapat menerima simpanan tersebut untuk jangka waktu 1, 3, 6,12, 24 bulan dan seterusnya. Dalam hal ini bank bertindak sebagai Mudharib dan nasabah bertindak sebagai Shahib al Maal, sedang keduanya menyepakati pembagian laba (bila ada) yang dihasilkan dari penanaman dana tersebut dengan nisbah tertentu. Dalam hal terjadi kerugian, nasabah menanggung kerugian tersebut dan bank kehilangan keuntungan.

 

–          Rekening investasi khusus

Bank dapat juga menerima simpana dari pemerintah atau nasabah korporasi dalam bentuk rekening simpanan khusus. Rekening ini juga dioperasikan berdasarkan prinsip mudharabah, tetapi bentuk investasi dan nisbah pembagian keuntungan biasanya dinegosiasikan secara kasus per kasus (Mudharabah Muqayyadah).

 

2.3. Produk Jasa

2.3.a. Rahn

Rahn adalah akad menggadaikan barang dari satu pihak kepada pihak lain, dengan uang sebagai gantinya. Akad ini dapat digunakan sebagai tambahan pada pembiayaan yang beresiko dan memerlukan jaminan tambahan. Akad ini juga dapat menjadi produk tersendiri untuk melayani kebutuhan nasabah untuk keperluan yang bersifat jasa dan konsumtif, seperti pendidikan, kesehatan, dsb. Lembaga keuangan tidak menarik manfaat apapun kecuali biaya pemeliharaan atau keamanan barang yang digadaikan tersebut.

 

2.3.b. Wakalah

Wakalah adalah akad perwakilan antara dua pihak. Dalam aplikasinya pada perbankan syariah, wakalah biasanya diterapkan untuk penerbitan Letter of Credit (L/C) atau penerusan permintaan akan barang dalam negeri dari bank luar negeri (L/C ekspor). Wakalah juga diterapkan untuk mentransfer dana nasabah kepada pihak lain.

 

2.3.c. Kafalah

Kafalah adalah akad jaminan satu pihak kepada pihak lain. Dalam lembaga keuangan, akad ini terlihat dalam penerbitan garansi bank (Bank Guarantee), baik dalam rangka mengikuti tender (Bid bond), pelaksanaan proyek (Performance bond) atau pun jaminan atas pembayaran lebih dulu (Advance Payment bond)

 

2.3.d. Hawalah

Hawalah adalah akad pemindahan hutang piutang suatu pihak kepada pihak lain. Prakteknya dapat dilihat pada transaksi anjak hutang (Factoring). Namun kebanyakan ulama tidak memperbolehkan mengambil manfaat (imbalan) atas pemindahan hutang piutang tersebut.

 

2.3.e. Jo’alah

Jo’alah adalah suatu kontrak dimana pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas/pelayanan yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama. Prinsip ini dapat diterapkan oleh bank dalam menawarkan berbagai pelayanan dengan mengambil fee dari nasabah.

 

2.3.f. Sharf

Sharf adalah transaksi pertukaran antara emas dengan perak atau pertukaran valuta asing dimana mata uang asing tersebut dipertukarkan dengan mata uang domestik atau mata uang asing lainnya.

 

Lembaga keuangan syariah dapat menerapkan prinsip ini dengan catatan harus memenuhi syarat-syarat yang disebutkan dalam beberap hadits, yaitu:

a.       Harus tunai,

b.       Serah terima harus dilaksanakan dalam majelis kontrak,

c.       Bila dipertukarkan mata uang yang sama harus dalamjumlah/kuantitas yang sama.

 


PRINSIP-PRINSIP MUAMALAH DALAM ISLAM

 

 

 

Muamalat dalam Islam mendasarkan pada prinsip-prinsip :

 

A.   LARANGAN RIBA

Riba dalam Islam haram hukumnya, dengan dasar sebagai berikut

1. Q.S AI-Baqarah (2) : 275 – 279, yang artinya : “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan penyakit gila Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Qrang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dan Tuhanya, lalu terus berhenti (dari mengabil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya terserah kepada Allah. Orang yang mengutangi (mengambil riba}, maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka  mereka kekal didalamnya. “

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengajarkan amal saleh, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman”.

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dan pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kami tidak menganiaya dan (tidak) pula dianiaya”.

 

2.  Q.S. Ali Imran (3) : 130, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapatkan keberuntungan.”

3.       Q.S. Ar-Ruum (30) : 39, yang artinya : “Dan suatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar ia menambah pada harta, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka {yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)”.

B.     MENGUTAMAKAN PERDAGANGAN DAN JUAL BELI

Perhatikan:

1.  Q.S. AI-Baqarah (2) : 275, yang menyatakan Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

2.       Q.S. An-Nisaa’ (4) : 29, yang menyatakan “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jangan bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu. “

3.       Perhatikan juga Q.S. Al-Fathir (35) : 29 – 30; Q.S. Ash-Shof (61) : 10-11; dan Q.S. At-Taubah (9): 111

4. Haditst riwayat Al-Bazzar; “Bahwa Nabi SAW pernah ditanya : Mata Pencarian apakah yang paling baik? Sedang bekerja dengan tanganya sendiri dan setiap jual beli yang mulus dan bersih”.

5.  Hadits Riwayat Tirmidzi dan Hakim. “Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama-sama para nabi, orang-orang yang terpercaya {benar} dan para syuhada”.

6. Hadits riwayat Bukhari: “Allah mengasihi orang yang longgar/tolong apabila menjual, dan apabila membeli dan menagih hutang”.

C. KEADILAN

 

1.   Q.S.   An-Nisa   (4) : 145,   yang   artinya:  “Sesungguhnya munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dan neraka. Dan kamu sekalian tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka”.

2.  Q.S. Huud (11) : 84-87, yang artinya “Dan kepada penduduk Madyan (kami utus) saudara mereka Syu’aib. ia Berkata’ “Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”

Dan Syua’ib berkata :”Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia dengan hak-hak mereka dan jangantah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan”.

Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagi kamu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga dirimu”.

Mereka berkata: “Hai Syua’ib apakah sholat-mu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami.   Sesungguhnya   kamu   seorang   yang   sangat   penyantun   lagi berakal”.

3.  Q.S. An-Nahl (16) : 90, yang artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kapada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan yang keji kemungkaran dan permusuhan, Dia memberi pengajaran kepadamu aqar kamu dapat mengambil pelajaran”.

4.       Juga perhatikan Q.S. Al Israa (17) : 16-35; An-Nisa (4): 160-161; Q.S. Al An’am (6):152.

D.      KEBERSAMAAN DAN TOLONG MENOLONG

1.  Q.S AL Maidah (8): 2, yang artinya. “Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran “

2.    Perhatikan pula Q.S. At Tahrim(66): 4-6.

3.       Hadits yang sudah sangat terkenal di kalangan ummat : “Orang Islam adalah saudara orang Islam lainnya, tidak patut ia menganiaya dan menghinanya. barang siapa menolong kebutuhan saudaranya, Allah senantiasa menolong kebutuhannya. Dan barang siapa membukakan suatu kesusahan dan seorang muslim, Allah akan membukakan satu, dan kesusahan-kesusahan kelak di hari kiamat”

 

E. SALING MENDORONG UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI

1.       Q S. An-Najm  (53):  39-41, yang  artinya:  “dan bahwasanya seorang manusia itu tidak akan mernperoleh selain apa yang telah diusahakannya

“Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya.”

“Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna

2. Q.S. Al-Mulk (67): 15, yang artinya1 “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di atas segala penjurunya dan makanlah sebagian dan rezeki-Nya Dari hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah)

3.         Q S. Al-Qashash (28): 77, yang artinya:

“Carilah apa saja yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu me!upakan kcbahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kopada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak rnenyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

4.  Perhatikan pula Q.S. Al Ashr(103): 1-3, Al Araaf (7): 10; Al-Jumu’ah (62): 10; dan An-Nisa(4): 32; Al Baqarah (2): 212.

 

5.  Hadits riwayat Thabrani yang artinya:  “Bila kalian telah selesai shalat subuh, janganlah kalian tidur, lalu mencari rizki kalian.”

6. Hadits   riwayat   Thabrani yang   artinya     “Sesungguhnya   Allah   telah mewajibkan kalian berusaha, maka hendaklah kalian berusaha “

7, Hadits riwayat Abu Daud dalam doanya Nabi memohon perlindungan agar dijauhkan dari lemah dan malas : “Wa a’uudzu bika minal ‘ajzi wal kasal; dan aku berlindung kepada-Mu Ya Allah, dari (sifat) lemah dan malas.”

 

 

 

RIBA DAN PERMASALAHANNYA

Pelarangan Riba

Di dalam Al Quran surat At-Baqarah ayat 275 s/d 279, dengan tegas dan gamblang Allah menyebutkan pelarangan riba. Demikian pula larangan riba disebutkan kembali oleh Allah SWT dalam Al Quran surat Al imran ayat 130, dalam surat An-Nisa ayat 161, dan dalam surat Ar-Rum ayat 39. Dengan berbagai cara pengungkapan Allah SWT dengan jelas dan tegas melarang riba Pelarang riba juga dipertegas dalam beberapa hadits Nabi SAW antara lain1

1.       Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Jabir bin Abdullah : “Telah berkata Rasulullah SAW “Allah melaknat orang yang makan riba, yang mewakili berbuat riba, dan saksinya, dan penulisnya”,

2.       Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah berbunyi: “Jauhilah 7 hal pokok Sahabat bertanya, “Apakah Itu ya Rasulullah?” Syirik terhadap Allah, sihir, membunuh seseorang yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, makan riba. makan harta untuk yatim, menyambung puasa yang diharamkan oleh Allah SWT, menuduh wanita muslim bercinta”,

3.       Hadits yang diriwayatkan oleh Daruqutni dari Abdullah bin Hanzalah “Satu dirham dan hasil riba lebih besar dosanya di sisi Allah SWT dari pada 30 kaii berzina dengan sengaja berbuat salah”.

4.       Hadits riwayat Ahmad dan Bukhari dari Abi Said Al-Khudri: Bersabda Rasulullah SAW: “Jual beli emas dengan emas. perak dengan perak, kebajikan dengan kebajikan. garam dengan garam, atau sesuatu dengan sesuatu yang sejenis, barang siapa menambahkan atau mengurangi maka sesungguhnya adalah riba. Yang mengambil dan memberi adalah sama”,

5. Hadits Riwayat Ahmad dari Abu Hurairah telah bersabda Rasulullah SAW; “Suatu saat akan datang masa dimana manusia memakan riba”, lalu sahabat bertanya, “Semua manusiakah ya Rasulullah?”, Nabi menjawab,”Orang yang tidak memakan riba, debunya sampai kepadanya”.

6.       Hadits Riwayat Muslim dan Umar bin Al Ahwash mengatakan: “Saya mendengar bapak saya meriwayatkan”, katanya. “Saya mendengar Rasulultah SAW berpidato pada haji wada'”: “Wahai manusia sesungguhnya darah kamu, harta kamu, dan kehormatan kamu haram atas kamu seperti haramnya harta kamu ini dikota kamu ini Ketahuilah bahwa setiap riba dan riba jahiliyah dilarang bagi kamu. Kamu hanya berhak atas modal kamu. Kamu tidak bo!eh menganiaya dan tidak boleh dianiaya”.

Demikianlah   beberapa   hadits  tentang   pelarangan   riba,   disamping   masih banyak hadits-hadits lain yang berbicara tentang pelarangan riba.Berdasarkan   uraian   dari   Al   Qur’an   dan   Hadits   di   atas   beberapa ahli merumuskan riba sebagai berikut:

1.       Riba menurut arti harfiah adalah: lebih, bertambah, mengembang, atau membesar.

2.       Riba menurut istilah Syara’ :

o      Tambahan dalam pembayaran ulang sebagai imbalan jangka waktu yang terpakai selama utang belum terbayar.

o      Semua    pinjaman     bersyarat    terlebih    dahulu     dalam     menetapkan keuntungan

o      Transaksi dengan imbalan tertentu yang tidak diketahui kesamaan takaran maupun ukurannya, waktu dilakukan transaksi atau dengan penundaan waktu penyerahan kedua barang yang ditukarkan atau salah satunya (Imam Syafi’i)

MACAM-MACAM RIBA

Riba tidak hanya satu macam tetapi bermacam-macam sesuai dengan sifat dan tujuan transaksinya. Umumnya terjadi karena adanya tambahan dalam penukaran, diharamkannya riba yang terjadi pada tambahan tanpa imbalan karena umumnya tambahan tersebut bersifat zalim, tidak adil, dan penganiayaan. Sesuai dengan sifat dan tujuan transaksi para ahli membagi riba dengan empat macam:

1.       Riba Al-Fadhli, yaitu menukarkan dua benda/barang yang sejenis dengan nilai tidak sama atau dengan takaran yang berbeda.

2.       Riba  Al-Qardhi, yaitu  meminjam dengan syarat ada keuntungan bagi yang memberi pinjaman.

3.       Riba An-Nasaa’i, yaitu menukarkan dua jenis benda jika terlambat maka kelebihannya atau kelebihan yang diambil waktu jatuh tempo oleh orang yang memberi pinjaman sebagai imbalan.

4.       Riba Al-Jahiliyah, yaitu hutang dibayar lebih dari pokoknya dikarenakan si peminjam tidak mampu membayar hutangnya di saat waktu yang telah ditetapkan.

5.       Riba Al-Qardh dan Al-Jahiliyah dapat dikategorikan sebagai riba hutang piutang, sedangkan riba Al-Fadhl dan An-Nasaa’i/An-Nasii’ah sebagai riba jual beli.


LARANGAN RIBA SEBELUM ISLAM
Masa Yunani Kuno

Bangsa Yunani Kuno mempunyai peradaban tinggi, peminjaman uang dengan memungut bunga dilarang keras ini tergambar pada beberapa pernyataan ahli filsafat di masa itu.

Plato (427-347 SM) mengecam sistem bunga berdasarkab dua alasan:

§  Bunga menyebabkan perpecahan dan perasaan tidak puas dalam masyarakat.

§  Bunga merupakan alat golongan kaya untuk mengeksploitasi golongan miskin.

Aristoteles (384-322 SM) juga sangat membenci pembungaan uang:

§ Bunga uang tidaklah adil”

§ Uang itu seperti ayam betina yang tidak bertelur

§ Meminjamkan   uang   dengan   bunga   adalah   sesuatu   yang  rendah, hina

 

Masa Romawi

Kerajaan Romawi melarang setiap jenis pemungutan bunga atas uang dengan mengadakan peraturan-peraturan keras guna membatasi besarnya suku bunga melalui undang-undang. Kerajaan Romawi adalah kerajaan pertama yang menerapkan peraturan guna melindungi para peminjam.

Menurut Agama Yahudi

Baik dalam Old Testament (Kitab Perjanjian Lama) maupun Undang Undang Talmud yang dipakai orang Yahudi, secara tegas melarang praktek bunga.

Kitab Exodus (Keluaran) Pasal 22 ayat 25 menyatakan :

Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umatKu, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih utang terhadap dia : Janganlah engkau bebankan bunga uang terhadapnya”.

Kitab Deuteronomy (Ulangan) pasal 23 pasal 19 menyatakan bahwa,      “Janganlah engkau membungakan uang terhadap saudaramu baik uang maupun bahan makanan atau apapun yang dapat dibungakan”

Kitab Levicitus (Imamat) pasal 25 ayat 36-37 menyatakan : Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba darinya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu bisa hidup di antaramu. Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah engkau berikan dengan meminta riba“.

Namun orang Yahudi berpendapat bahwa riba itu hanyalah terlarang kalau dilakukan di kalangan sesama Yahudi, dan tidak dilaranq dilakukan terhadap kaum yang bukan Yahudi. Mereka mengharamkan riba sesama mereka tetapi menghalalkannya kalau pada pihak yang lain. Dan ini yang menyebabkan bangsa Yahudi terkenal memakan riba dari pihak selain kaumnya. Berkaitan dengan kezhaliman kaum Yahudi ini, Allah dalam AL Quran surat An-nisa 160-161 tegas-tegas mengatakan bahwa perbuatan kaum yahudi adalah riba yaitu memakan harta orang lain dengan jalan BATHIL, dan Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih.

Menurut Agama Nasrani

Dalam perjanjian baru di dalam Injil Lukas ayat 34 disebutkan:   “Jikalau kamu menghutangi kepada orang yang kamu harapkan imbalannya maka di mana sebenamya kehormatan kamu. Akan tetapi berbuatlah kebaikan dan berikanlah pinjaman dengan tidak mengharapkan kembalinya karena pahala kamu akan sangat banyak”.

Ketetapan diatas dan beberapa lainnya menunjukkan pengharaman riba juga terdapat dalam agama Nasrani. Pengambilan bunga uang dilarang gereja sampai pada abad ke-13 masehi. Pada akhir abad ke-13 timbul beberapa faktor yang menghancurkan pengaruh gereja yang dianggap masih sangat kolot dan bertambah meluasnya pengaruh aliran baru, maka peminjaman dengan dipungut bunga mulai diterima masyarakat.

Para pedagang berusaha menghilangkan pengaruh gereja untuk menghalalkan beberapa keuntungan yang dilarang pihak gereja. Mereka sangat terpengaruh oleh sistem Yahudi. Dari pihak gereja sendiri pengharaman riba makin lama makin kabur Ada beberapa tokoh gereja beranggapan bahwa keuntungan yang diberikan sebagai imbalan admnistrasi dan kelangsungan organisasi dibenarkan karena bukan keuntungan dari hutang. Tetapi sikap pengharaman riba secara mutlak dalam agama Nasrani dengan gigih ditegaskan oleh Martin Luther, tokoh gerakan Protestan. la mengatakan keuntungan semacam itu baik sedikit maupun banyak, jika harganya lebih mahal dari harga tunai tetap riba.

Semua itu menunjukkan dengan jelas bahwa agama Nasrani mengharamkan riba. Biarpun martin Luther sangat keras sikapnya terhadap riba, riba telah meluas dan membudaya di Eropa dan tersebar ke seluruh dunia.

Faktor-faktor penyebabnya adalah sebagai berikut:

1.   Kalangan Nasrani beranggapan agama itu terbatas di gereja saja, dan urusan materi diatur oleh undang-undang kehidupan (kemasyarakatan) sedangkan jiwa mereka dikuasai oleh semangat kebendaan.

2           Mereka beranggapan keuntungan sedikit merupakan upah administrasi dan organisasi. Dan keuntungan tersebut untuk membelanjai tokoh-tokoh agama dan kaum agama pada umumnya.

3           Anggapan para ekonom bahwa keuntungan yang sedikit Tidak menyalahi tuntunan akhlak dan tidak menyebabkan semangat kerakusan serta memperkuat permodalan dan produksi.

Dari keterangan-keterangan di atas jelas bahwa riba telah dilarang dalam peradaban manusia sejak ribuan tahun yang lalu, Sejak zaman Yunani Kuno, agama Yahudi, agama Nasrani. Tetapi keserakahan. kezhaliman, kebatilan manusia membuat mereka mencari alasan-alasan untuk menghalalkan riba. Riba mereka lakukan dengan mengatasnamakan perdagangan Mereka tidak menghiraukan hati nurani. akal sehat dan kebenaran.

Di masa jahiliyah di mana jazirah Arab terlelak di jalur perdagangan antara Eropa dan Afrika, dan antara India dengan Cina, membuat bangsa Arab sangat maju di bidang perdagangan. Dalam rangka menunjang arus perdagangan yangr begitu pesat mereka membutuhkan sistem pembiayaan yang memadai guna menunjang kegiatan perdagangan. Pada jaman jahiliyah di tanah Arab praktek riba menjadi bagian hidup mereka. Unsur bunga merupakan bagian sistem transaksi yang tidak dapat dipisahkan. Riba yang terkenal di zaman jahliyah ialah riba nasi’ah dan riba fadhal. Riba nasi’ah adalah tambahan yang terjadi dalam hutang-piutang berjangka waktu, sebagai imbalan dalam jangka waktu tersebut. Sedangkan riba fadhal ialah seseorang menjual sesuatu dengan sesuatu yang sama materinya telapi berbeda jumlahnya. Umumnya beberapa ayat yang diturunkan oleh Allah SWT dalam AI-Quran untuk menghilangkan kedua jenis riba ini.

TAHAPAN LARANGAN RIBA

Sudah jelas diketahui bahwa Islam melarang riba dan memasukannya dalam dosa besar. tetapi Allah SWT yang maha bijaksana menempuh metode bertahap tidak sekaligus dalam melarang riba. Metode ini ditempuh agar tidak mengagetkan mereka yang telah biasa melakukan riba dengan maksud membimbing manusia secara mudah dan lemah lembut untuk mengalihkan kebiasaan mereka yang sudah berakar, mendarah daging dalam kehidupan perekonomian jahiliyah. Ayat yang diturunkan pertama dilakukan secara temporer yang pada akhirnya ditetapkan secara permanen dan tuntas melalui 4 tahapan :

Tahap Pertama

Dalam surat Ar-Rum ayat 39 Allah menyatakan secara nasehat bahwa Allah tidak menyenangi orang yang melakukan riba. Dan untuk mendapatkan hidayah Allah ialah dengan menjauhkan riba. Disini Allah menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang mereka anggap untuk menolong manusia merupakan cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Berbeda dengan harta yang dikeluarkan untuk zakat, Allah akan memberikan barakah-Nya dan melipatgandakan pahala-Nya. Pada ayat di atas tidaklah menyatakan larangan dengan belum mengharamkannya.

Tahap Kedua

Pada tahap kedua, Allah menurunkan surat An-Nisa ayat 160-161. Riba digambarkan sebagai sesuatu pekerjaan yang zalim dan batil. Dalam ayat ini Allah menceritakan balasan siksa bagi kaum Yahudi yang melakukannya. Ayat ini juga menggambarkan Allah lebih tegas lagi tentang riba melalui riwayat orang Yahudi walaupun tidak terus terang menyatakan laranqan bagi orang islam. Tapi ayat ini membangkitkan perhatian dan kesiapan untuk pelarangan riba. Ayat ini menegaskan bahwa pelarangan riba sudah pernah terdapat dalam kaum Yahudi. lni memberi isyarat bahwa akan turun ayat berikutnya yang akan menyatakan pengharaman riba bagi kaum Muslimin.

Tahap Ketiga

Dalam surat Ali Imran ayat 130, Allah tidak mengharamkan riba secara tuntas, tetapi melarang dalam bentuk berlipat ganda. Hal ini menggambar kebijaksanaan Allah yang melarang sesuatu yang telah mengakar masyarakat sejak zaman jahiliyah dahulu, sedikit demi sedikit, sehingga perasaan mereka yang telah biasa melakukan riba siap menerimanya.

Tahap Keempat

Surat At-Baqarah ayat 275-279 dengan cara tegas. jelas, pasti, dan tuntas Allah mengharamkan riba secara mutlak dalam berbagai bentuknya, dan tidak dibedakan besar kecilnya

 

 

 

MENGAPA RIBA DILARANG?

1.        Allah Yang Maha Kuasa dan Bijaksana tidak mungkin mengharamkan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi manusia, tetapi hanya mengharamkan apa yang membawa mudharat bagi manusia, baik secara individu maupun masyarakat.

2.        Cara riba merupakan jalan usaha yang tidak sehat karena keuntungan yang diperolah si pemilik modal bukan merupakan hasil pekerjaan atau jerih payahnya. Keuntungan yang didapat dengan mengeksploitir orang lain yang pada dasarnya lebih Iemah dan padanya Praktek semacam ini merugikan pengusaha kecil dan kecil bawah dan sebaliknya menambah kekayaan bagi orang-orang kaya dan orang-orang kuat tanpa menanggung resiko apapun.

Harta tidak melahirkan harta, uang tidak menelorkan uang. Harta baru dapal berkembang dengan cara kerja dan jerih payah untuk kedua belah pihak dan kemaslahatan masyarakat. sehingga merealisasikan kehidupan bersama yang adil antara harta dan kerja.

3.        Riba dapat menyebabkan krisis akhlak dan rohani. Orang yang mempunyai modal (besar) berkeinginan menambah harta kekayaannya dengan cara apa saja. Hal ini meninggalkan sifat tamak dan egois tanpa memperdulikan lingkungan masyarakat sekelilingnya, dan mempertinggi jurang pemisah antara si kaya dan si miskin yang pada akhirnya bisa menimbulkan rasa asosial Setiap kelompok mementingkan golongannya sendiri, cenderung, kepada perpecahan, saling menjatuhkan, dan akan saling bentrok satu sama lain.

4.        Riba bisa menyebabkan manusia enggan bekerja, hanya hidup dari mengambil harta manusia dengan jalan batil tidak mengacuhkan kebaikan dan keburukan, yang penting harta bertambah, tidak ada rasa sayang kepada Si miskin. Hal ini sangat bertentangan dengan Islam yang mengutamakan kerja keras dan rasa kasih sayang kepada fakir miskin.

5.        Riba dapat menyebabkan kehancuran dan Kepapaan, banyak orang yang kehilangan harta benda dan akhirnya menjadi fakir miskin Sebaliknya pihak yang mempunyai modal, bisa memiliki harta orang lain dengan hanya mengeluarkan modal yang sedikit.

6.        Banyak pakar ekonomi yang berkeyakinan bahwa krisis ekonomi dewasa ini disebabkan oleh sistem riba. Sistem riba banyak menimbulkan bencana di beberapa negara dan bangsa. Di Indonesia sendiri Keberhasilan pembangunan ternyata juga menimbulkan kesenjangan ekonomi yang dapat menimbulkan kerawanan sosial. Perbankan dengan sistem bunga mempunyai peranan   yang    besar    dalam   menciptakan   konglomerasi   dan   sekaligus kesenjangan   ekonomi.   Perbankan  dengan   sistem  bunga  dikenal   sangat berhasil   dalam   mcnghimpun   tabungan   masyarakat   dengan   bunga   yang menarik   Berkat rayuan-rayuan dan janji-janji keuntungan yang besar maka masyarakat   berduyun-duyun   menabung   di  bank.   Pada   prakteknya  bagi masyarakat  lapisan   bawah   lebih   mudah   menabung  daripada   meminjam. Mengapa demikian? Kalau menabung batasan jumlah yang bisa ditabung tidak terlalu besar dan bisa dilakukan o!eh mereka. Dan ini adalah kiat bank’ untuk menarik dana dari masyarakat yang umumnya terdiri dan masyarakat lapisan menengah dan masyarakal lapisan bawah  Kemudian siapa yang bisa meminjam? Yang mampu meminjam ialah mereka yang mempunyai usaha besar karena bank membatasi jumlah pinjaman minimum yang jumlahnya cukup     besar    dan     bervariasi    menurut    masing     masing     bank,     dan memprioritaskan kepada peminjam yang jumlah pinjamannya lebih besar karena keuntungan bank akan lebih besar dan biaya operasionalnya lebih Kecil. Di samping itu tidak semuya orang  mampu membayar tingkat bunga pinjaman yang berlaku.  Maka penyaluran dana hanya abagi mereka yang mampu membayar bunga simpanan saja yang mempunyai akses ke bank yang   umumnya   para   nasabah   utama   mereka   adalah   para   pengusaha besar/konglomerat. Seperti diketahui bahwa secara teori perbankan, biaya operasional perbankan dibebankan kepada penyaluran dana, dan ini artinya biaya operasional Bank gaji pegawai, sewa gedung, listrik, telepon, promosi, hadiah-hadiah dll), dibebankan kepada peminjam dana Ini artinya peminjam danalah yang sebenarnya yang menanggung biaya operasional bank. Apakah sampai di sini sudah selesai? Tenyata tidak, bunga adalah konsep biaya maka beban bunga pinjaman yang sudah tinggi itu oleh peminjam dana, sebanyak mungkin  akan digeserkan kepada  penanggung akhir.  Siapakah mereka?  Mereka adalah rakyat (kecil) sebagai penanggung akhir. Bagaimana caranya? Apabila peminjam dana adalah pedagang maka beban bunga itu digesernya kepada harga barang yang dijual. Sedangkan apabila peminjam dana adalah seorang produsen maka beban harga itu digesernya kepada harga   barang/jasa   yang   diproduksi    Akibatnya, pihak-pihak   yang   selalu diuntungkan ialah pedagang, pengusaha, bank, dan penyimpan dana di atas, pihak  lain  yang  selalu  dirugikan yaitu   Rakyat Kecil sebagai  penanggung beban biaya terakhir   Maka yang didapat oleh rakyat kecil adalah mereka hanya mempunyai akses ke bank pada tigkat menabung yang relatif kecil yang berarti keuntungan yang mereka dapat pun lebih kecil, tetapi rakyat kecil yang besar jumlahnya membuat bank lebih banyak menghimpun dana dari mereka dengan janji dan iming-iming hadiah. Kalau hal ini berlangsung secara terus-menerus. maka akan terjadi pemindahan kekayaan dari rakyat kecil kepada yang kaya/konglomerat, baik melalui simpanan mereka di bank secara langsung, maupun sebagai penanggung beban biaya terakhir Khusus mengenai tabungan di bank oleh rakyat kecil, bukan ini berarti tanpa mereka sadari membantu permasalan bagi pengusaha (besar) yang kadang-kadang bermasalah Kalau hal tersebut di atas terus berlangsung dalam jangka panjang, akan terjadi jurang pemisah yang semakin jauh dan dalam antara yang kaya dengan yang miskin. Dan inilah yang disebut bisa menimbulkan bencana oleh banyak pakar ekonomi.

7.        Di samping hal di atas, riba juga dapat menimbulkan kejahatan-kejahatan moral dan spiritual, diantaranya:

a.       Egois,

b.       Bakhil,

c.       Berwawasam sempit,

d.       Berhati batu,

e.       Sikap yang tidak mengenal belas kasihan,

f.        Mendorong sikap tamak, dan

g.       Menebarkan sikap cemburu,

Kesemuanya akan menimbulkan kesengsaraan di kalangan masyarakat.

 

Imam Razi menjelaskan mengapa riba dilarang, beberapa diantaranya dirangkum di bawah ini:

–          merampas kekayaan orang lain,

–          merusak nilai moral,

–          yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin semakin miskin,

BAGI HASIL DAN BUNGA

Seperti telah disebutkan pada uraian terdahulu bahwa prinsip-prinsip muamalah dalam islam di antaranya ialah :

 

a.             Larangan riba,

b.             Mengutamakan dan mempromosikan perdagangan dan jual beli,

c.             Keadilan,

d.             Kebersamaan, dan tolong menolong, dan

e.             Saling mendorong untuk meningkatkan prestasi,

 

Karenanya dasar hubungan muamalah dalam Islam ialah saling menguntungkan. Hal ini berarti pergantian pranata bunga dengan bagi hasil. Pergantian pranata bunga yang tidak adil dan bersifat pemerasan dengan sistim bagi hasil yang bersifat adil, kebersamaan tolong menolong, dan gotong royong untuk menghindari seaeorang dan kesulitan sosial dan ekonomi dan juga dari beban moral dan spiritual Sistem syariah menggunakan produk bisnis/perniagaan berdasarkan bagi hasil dan jual beli. Prinsip bagi hasil pada dasarnya ialah penentuan proporsi berbagi keuntungan pada saat akad dilakukan. Kejadian atau pelaksanaan untung  yang akan dibagi terjadinya pada saat untung itu telah ada dan telah kelihatan menurut proporsi yang telah disepakati. Prinsip jual beli dapat dilakukan dengan membayar tangguh yaitu pada saat benda yang diperjualbelikan itu telah dimanfaatkan dan telah menghasilkan nilai uang untuk membayar sesuai jadwal atau kesepakatan dan atas analisa usaha yang dilakukan.

Berikut adalah perbedaan imbalan yang berdasarkan bunga dan yang berdasarkan bagi hasil :

 

 

SISTEM BUNGA SISTEM BAGI HASIL
a.       Penentuan besarnya hasil (bunga) dibuat sebelumnya (pada waktu akad) tanpa berpedoman pada untung rugi, a.         Penentuan besarnya rasio bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan borpedoman pada kemungkinan untung rugi (besarnya jumlah diketahui sesudah berusaha, sesudah ada untungnya)
b.       Besarnya presentase (bunga/ nilai rupiah) ditentukan sebelumnya, berdasarkan jumlah uang yang dipinjamkan b.         Besarnya ratio bagi hasil berdasarkan keuntungan yang paralel dengan menyepakati proporsi pembagian keuntungan untuk masing-masing pihak, belum tentu besarnya
c.       Jika terjadi kerugian ditanggung si peminjam saja berdasarkan pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan c.         Jika Terjadi kerugian ditanggung kedua belah pihak yaitu si pemilik modal dan si peminjam
d.       Jumlah pembayaran bunga tidak rneningkat sekalipun keuntungan meningkat d.         Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan
e.       Besarnya bunga yang harus dibayar si peminjam pasti diterima bank e.         Keberhasilan usaha yang jadi perhatian bersama yaitu si peminjam dan si pemilik modal
f.        Umumnya agama (terutama Islam) mengecamnya f.           Tidak ada yang meragukan sistem bagi hasil
g.       Berlawanan dengan Al Qur’an surat Luqman ayat 34.

 

g.         Melaksanakan Al Qur’an surat Luqman ayat 34

 

 

 

BAHAN BACAAN

Ekonomi Islam Suatu Pengantar II, Drs Ibrahim Lubis Bc. Hk, DIPL. Ec. Penerbitan Kalam Mulia, 1995.

Bunga Bank dalam Islam, Dr. Abu Sura’I Abdul Hadi MA, Diterjemahkan oleh Drs. M. Halib. Penerbit Al Ikhlas Surabaya.

Haruskah Hidup dengan Riba. Dr. Yusuf Qardawi dan kawan-kawan. Penerbit Germa Insani Pers. Jakarta 1994

Peranan Ulama dalam Pengembangan Ekonomi Umat, H. Karnaen A. Perwataatmaja, Drs. MPA. Makalah disajikan sebagai sumbang saran dan makalah pendamping dan lokakarya Majelis Ulama Tentang Peranan Ulama Dalam Pengembangan Ekonomi Ummat. Jakarta, 19-20 Juli 1995

Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah. Drs. Zainul Arifin, MBA. Penerbit Alvabet. Jakarta. 2002

Bank Syariah, Dari Teori ke Praktek. Muhammad Syafi’I Antonio, Penerbit Gema Insani Press, Jakarta, 2001.

Tentang https://baitulmaalassalam.wordpress.com

Baitul Maal AsSalam (BMA) | Lembaga ZAKAT | Zakat FITRAH | Zakat MAAL | Zakat PROFESI | Zakat Perdagangan | Zakat Pertanian | AMIL Zakat | Zakat perhiasan | INFAQ | Shodaqoh | WAKAF | Hibah | Sedekah | Shodaqoh Jariyah | Infaq ONLINE | Wakaf TUNAI | Wakaf Produktif |Corporate Social Responsibility (CSR)| Mitra Pengelola Zakat (MPZ) Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Dompet Dhuafa (DD)| Lembaga zakat, mengajak disiplin berinfaq, shodaqoh, zakat, minimal 2,5% dari setiap rizki. Untuk menyempurnakan taqwa..mewujudkan lembaga ZAKAT yang amanah dan profesional menuju kemandirian bangsa. hubungi pak MAKIN, 0852-3496-4872 / 0341-8106395 / 0341-8140141. KANTOR BMA / KANINDO SYARIAH JATIM, da.JL.RAYA SENGKALING 293 DAU MALANG JATIM. http://baitulmaalssalam.wordpress.com
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s